Serba-serbi Hukum Pinjam Meminjam Dalam Islam

Pinjam meminjam dalam islam sudah menjadi hal yang lazim dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam hal berkeluarga, bermasyarakat dan juga bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Terlebih lagi jika kita dalam keadaan membutuhkan suatu barang, seringkali kita akan meminjam barang yang dibutuhkan pada orang lain. Sementara itu, hukum pinjam meminjam dalam Islam sesuai dengan syariat dan memiliki keutamaan baik untuk si pemberi pinjaman maupun yang diberi pinjaman. Ada 2 macam pinjaman, yang pertama adalah pinjaman konsumtif adalah pinjaman yang diberikan pada seseorang guna mencukupi keperluan dalam hidupnya. Pinjaman produktif terbagi menjadi 3 jenis:

  • Pinjaman orang-orang lemah: Yaitu pinjaman yang diberikan pada fakir miskin ataupun orang-orang yang mengalami kesulitan untuk bisa mencukupi kebutuhan hidupnya yang utama/pokok misalkan untuk makan, biaya pengobatan, melahirkan dan sebagainya. Memberi pinjaman yang seperti ini dilandasi oleh rasa kemanusiaan dan empati.
  • Pinjaman bagi yang membutuhkan: Pinjaman ini diberikan pada pihak yang bukan termasuk golongan orang yang kurang mampu hanya saja sedang membutuhkan uang dan mampu melunasi hutangnya di kemudian hari.
  • Pinjaman pada orang yang berhutang: Pinjaman yang diberikan kepada orang-orang yang sedang dalam kesulitan untuk membayar hutang atau ingin membayar hutangnya pada orang lain dengan segera.

3 Jenis Hukum Pinjam Meminjam Dalam Islam

Selain pinjaman konsumtif, ada juga pinjaman produktif yang merupakan pinjaman kepada seseorang yang sedang membutuhkan uang untuk dijadikan modal usaha atau tambahan modal untuk membangun dan mengembangkan usahanya. Hukum pinjam meminjam dalam Islam sudah sangat jelas dan tertulis baik dalam Al-Qur’an maupun hadits. Bahkan memberi pinjaman pada orang ini sangat dianjurkan jika bertujuan untuk hal-hal yang haq (baik) dan membawa manfaat. Pinjam meminjam termasuk dalam kegiatan tolong-menolong yang membawa manfaat besar untuk kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Hukum pinjam meminjam ada 3 jenis bila ditinjau dari syariat:

1. Wajib

Pinjam meminjam hukumnya menjadi wajib bila digunakan dalam kepentingan atau keperluan yang sifatnya sangat mendesak dan si peminjam memang sedang dalam keadaan membutuhkan pertolongan dan tidak dapat ditunda misalnya untuk keperluan pengobatan atau perawatan di rumah sakit, biaya melahirkan termasuk juga untuk membayar hutang-hutang.

contoh pinjam meminjam dalam islam

2. Sunnah/mubah

Pinjam meminjam hukumnya sunnah (bila dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan tidak berdosa) dan juga mubah/boleh (boleh dikerjakan, boleh tidak dikerjakan dan tidak mendapat pahala/dosa apapun) seperti misalnya meminjamkan uang untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak dan segala kepentingan yang masih dibenarkan dalam hukum.

3. Haram

Pinjam meminjam apa saja, tak terkecuali uang bisa disebut haram apabila digunakan untuk kepentingan-kepentingan yang tidak sesuai (melanggar) hukum atau untuk melakukan perbuatan maksiat misalkan meminjamkan uang untuk membeli minuman keras/mabuk-mabukan, meminjamkan uang untuk membeli barang haram, meminjamkan uang untuk dapat berzina dengan PSK dan sejenisnya.

Meski pinjam meminjam ini dilandasi oleh kasih sayang dan kemanusiaan, namun ada beberapa syarat untuk pinjam meminjam semisal barang yang dipinjamkan bersumber dari sesuatu yang halal, barang atau uang tersebut merupakan kepemilikan penuh hingga memberi pinjaman dengan tulus ikhlas. Adapun pada hukum pinjam meminjam dalam Islam si peminjam harus mematuhi 3 kewajiban antara lain: menjaga dan merawat barang yang dipinjam, memanfaatkan barang atau uang dengan sebaik-baiknya dan dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh hukum syariat atau perjanjian yang berlaku serta bersedia untuk mengganti atau memperbaiki jika barang pinjaman rusak atau hilang.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *